Minggu, 12 Oktober 2014


·        Tujuan Bimbingan dan Konseling
Untuk membantu individu membuat pilihan-pilihan, penyesuaian-penyesuaian dan interpretasi-interpretasi dalm hubungannya dengan situasi-situasi tertentu. (Harmin & Clifford, dalam Jones, 1951)
Untuk membantu orang-orang menjadi insan yang berguna, tidak hanya sekedar mengikuti kegiatan-kegiatan yang berguna saja. (Tiedeman, dalam Bernard & Fullmer, 1969)
Dengan proses konseling klien dapat:
-  mendapat dukungan selagi klien memadukan segenap kekuatan dan kemampuan   untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi.
- memperoleh wawasan baru yang lebih segar tentang tentang berbagai alternatif, pandangan dan pemahaman-pemahaman, serta keterampilan-keterampilan baru.
- menghadapi kekuatan-kekuatan sendiri; mencapai kemampuan untuk mengambil keputusan dan keberanian untuk melaksanakannya; kemampuan untuk mengambil resiko yang mungkin ada dalam proses pencapaian tujuan-tujuan yang dikehendaki. (Coleman, dalam Thompson & Rudolph, 1938)
Adapun tujuan khusus bimbingan dan konseling merupakan penjabaran tujuan umum tersebut yang dikaitkan secara langsung dengan permasalahan yang dialami oleh individu yang bersangkutan, sesuai dengan kompleksitas permasalahannya itu. Masalah-masalah individu bermacam ragam jenis, intensitas, dan sangkut-pautnya, serta masing-masing bersifat unik. Oleh karena itu tujuan khusus bimbingan dan konseling untuk masing-masing individu bersifat unik pula. Tujuan bimbingan dan konseling untuk seorang individu berada dari (dan tidak boleh disamakan dengan) tujuan bimbingan dan konseling untuk individu lainnya.

A.   Tujuan program bimbingan di sekolah dasar

1.      Secara umum bimbingan disekolah dasar bertujuan membantu murid agar:
a.       Memperkembangkan pengertian dan pemahaman diri dalam kemajuan di sekolah;
b.      Memperkembangkan pengetahuan tentang dunia kerja, kesempatan kerja,  serta rasa tanggung jawab dalam memilih suatu kesempatan kerja tertentu, sesuai dengan tingkat pendidikan yang diisyaratkan;
c.       Memperkembangkan kemajuan untuk memilih, mempertemukan pengetahuan tentang dirinya dengan informasi tentang kesempatan yang ada secara tepat dan bertanggung jawab;
d.      Mewujudkan penghargaan terhadap kepentingan dan harga diri dari orang lain.
2.      Secara khusus, bimbingan di sekolah dasar bertujuan agar setelah mendapat pelayanan bimbingan, murid sekolah dasar dapat mempergunakan kemampuan yang dimilikinya untuk:
a.       Mengatasi kesulitan dalam memahami dirinya sendiri;
b.      Mengatasi kesulitan dalam memahami lingkungannya yang meliputi lingkungan sekolah, keluarga, dan kehidupan masyarakat yang lebih luas;
c.       Mengatasi kesulitan dalam mengidentifikasikan masalah dan memecahkan masalah yang dihadapinya;
d.      Mengatasi kesulitan dalam menyalurkan kemampuan, minat, dan bakatya dalam bidang pendidikan dan kemungkinan pekerjaan secara tepat.
3.      Secara lebih khusus lagi, bimbingan di sekolah dasar bertujuan agar setelah mendapat bimbingan khusus murid-murid yang mempunyai kesulitan seperti tertulis dibawah ini dengan kemampuan yang dimilikinya dapat mengatasinya secara optimal. Kesulitan-kesulitan yang dimaksud pada umumnya meliputi hal-hal sebagai berikut:
a.       Kesulitan dalam belajar, yang ditandai oleh prestasi belajar yang terendah, dan terutama disebabkan oleh:
- kemampuan belajar yang rendah (low learners)
- ketidak mampuan mempergunakan kemampuan belajar  yang lebih tinggi secara optimal (under achievers)
- kekurangan motivasi untuk belajar yang berlatar belakang masalah sosial-emosional.
b.      Kebiasaan-kebiasaan buruk yang dilakukan oleh murid-murid dalam situasi belajar-mengajar dan dalam hubungan sosial.
c.       Kesulitan-kesulitan yang berhubungan dengan kesehatan jasmani.
d.      Kesulitan-kesulitan yang berhubungan dengan kelanjutan sekolah.
e.       Kesulitan-kesulitan yang berhubungan dengan perencanaan dan pemilihan jenis pekerjaan setelah selesai mengikuti pelajaran di sekolah dasar, apabila yang bersangkutan terpaksa tidak dapat melanjutkan kesekolah yang lebih tinggi.
f.        Kesulitan-kesulitan yang berhubungan dengan masalah sosial emosional di sekolah, yang berakar pada sikap murid yang bersangkutan terhadap dirinya sendiri, terhadap lingkungan sekolah, lingkungan keluarga, dan lingkungan yang lebih luas.

 B.   Program bimbingan di  sekolah dasar

       Kapunan (1974) menyebutkan 7 program bimbingan di sekolah dasar, yaitu:
1.      Orientasi terhadap lingkungan sekolah. Program ini sangat dibutuhkan anak yang baru pertama kali masuk kedalam lingkungan sekolah. sekolah merupakan tempat yang asing bagi anak, karena jauh dari lindungan rasa aman keluarganya. Anak akan bertemu dengan banyak wajah baru, baik itu guru atau teman sekelasnya. Anak yang manja, pemalu, atau agresif akan menemui banyak kesulitan dalam proses penyesuaian dalam lingkungan sekolah. Melalui program bimbingan, anak-anak akan merasakan pengalaman sekolah sebagai pengalaman yang menyenangkan.
2.      Persiapan untuk melanjutkan ke tingkat sekolah yang lebih lanjut. Anak yang akan lulus dan sedang duduk dikelas terakhir memerlukan bantuan untuk melanjutkan diri kesekolah lanjutan pertama. Guru kelas enam mempunyai tugas ini dan kerja sama dengan sekolah lanjutan perlu diadakan. Guru dapat meminta brosur atau leaflet sekolah lanjutan, lalu memberikan atau menginformasikannya kepada anak-anak. Guru dapat mengunjungi sekolah-sekolah lanjutan untuk mengenal situasi sekolah menengah. Program ini dapat membantu anak dalam masa transisi ke sekolah lanjutan.
3.      Progra testing. Tes yang dibakukan sebaiknya diberikan pada awal anak masuk sekolah. tes prestasi dan invetori minat dapat diberikan secara berkala. Hasil observasi dan tes dapat dipakai sebagai dasar untuk menilai anak dalam proses belajar dan penyesuaian di sekolah.
4.      Daftar pencatatan pribadi atau  commulative records dapat dibuat pada setiap kelas secara kontinu dan dapat dilanjutkan pada sekolah lanjutannya. Data ini dapat dipakai membantu anak agar ia dapat dengan lebih baik mengerti diri dan lingkungannya, dan membantu perencanaan masa depannya, baik kesejahteraannya maupun perkembangannya.
5.      Program pengajaran remedial. Program ini sebaiknya diberikan kepada anak yang lambat dan mengalami kesukaran belajar atau kesukaran penyesuaian terhadap lingkungannya.
6.      Bimbingan terhadap kegiatan-kegiatan diluar kelas. Program ini merupakan program ekstrakulikuler seperti program pembinaan OSIS, drama, olahraga, dan kegiatan kemasyarakatan. Program ini diharapkan dapat menumbuhkan perasaan “memiliki” sekolah dan masyarakat pada diri siswa sekolah dasar.
7.      Kerja sama dengan orang-tua siswa. keluarga tetap melakukan lingkungan pertama pertama dan faktor utama dalam perkembangan anak. Pertemuan orang-tua siswa secara teratur akan membawa manfaat bagi perkembangan anak-anak di sekolah dasar. Kunjungan guru dan konselor kerumah orang- tua siswa dapat menciptakan hubungan yang baik antara sekolah dan orang-tua murid. Demikian pula pertemuan bagi orang-tua dan guru siswa sangat bermanfaat bagi keselarasan hubungan sekolah dengan orang tua, sehingga sangat bermanfaat bagi perkembangan anak baik di sekolah maupun di keluarga.


































Prayitno. 2009. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Rineka Cipta
Gunawan, Yusuf. 1992. Pengantar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Gramedia

Minggu, 05 Oktober 2014


·       Perlunya Bimbingan dan Konseling
Tingkat kenakalan remaja dan perkelahian pelajar yang semakin meningkat menunjukan gejala kurang berkembangnya dimensi kesosialan dan kesusilaan mereka. Demikian juga kurangnya penghayatan terhadap nilai-nilai Ketuhanan dan praktek-praktek kehidupan yang tidak didasarkan atas kaidah-kaidah agama mrnggambarkan kurang mantapnya pengembangan dimensi keberagamaan. Permasalahan yang banyak terjadi di masyarakat, seperti pertengkaran antarwarga masyarakat, rendahnya disiplin kerja, pengangguran, pencurian, perjudian, dll merupakan gejala rendahnya pengembangan keempat dimensi kemanusiaan tersebut.
Permasalahan yang dialami para siswa di sekolah sering kali tidak dapat dihindari, meski dengan pengajaran yang baik sekalipun. Hal ini terlebih lagi disebabkan karena sumber-sumber permasalahan siswa banyak yang terletak di luar sekolah. Dalam kaitan itu, permasalahan siswa tidak boleh dibiarkan begitu saja. Apabila misi sekolah adalah menyediakan pelayanan yang luas untuk secara efektif membantu siswa mencapai tujuan-tujuan perkembangannya dan mengatasi permasalahannya, maka segenap kegiatan dan kemudahan yang diselenggarakan sekolah perlu diarahkan ke sana. Disinilah dirasakan perlunya pelayanan bimbingan dan konseling di samping kegiatan pengajaran. Dalam tugas pelayanan yang luas, bimbingan dan konseling di sekolah adalah pelayanan untuk semua murid yang mengacu pada keseluruhan perkembangan mereka, yang meliputi keempat dimensi kemanusiaannya dalam rangka mewujudkan manusia seutuhnya.
Pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah di Indonesia sebenarnya telah dirintis sejak tahun 1960-an. Mulai tahun 1975 pelayanan bimbingan dan konseling telah secara resmi memasuki sekolah-sekolah, yaitu dengan dicantumkannya pelayanan tersebut pada Kurikulum 1975 yang berlaku di sekolah-sekolah seluruh indonesia, pada jenjang SD,SLTP dan SLTA. Pada Kurikulum 1984 keberadaan bimbingan dan konseling lebih dimantapkan lagi.
·        Jenis-jenis Layanan Bimbingan Konseling di Sekolah dan Madrasah
Terdapat beberapa jenis layanan bimbingan konseling di sekolah dan madrasah, antara lain layanan orientasi, layanan informasi, layanan penempatan dan penyaluran, layanan penguasaan konten, layanan konseling perorangan, dan layanan bimbingan kelompok.
a.      Layanan Orientasi
Layanan orientasi bertujuan untuk membantu individu agar mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan atau situasi baru. Dengan kata lain, ini bertujuan agar individu dapat memperoleh manfaat sebesar-besarnya dari berbagai sumber yang ada pada suasana atau lingkungan baru tersebut. Layanan ini juga akan mengantarkan individu untuk memasuki suasana aau ligkungan baru. Tujuan layanan orientasi berhubungan dengan fungsi-fungsi tertentu pelayanan bimbingan dan konseling dilihat dari fungsi pemahaman, layanan orientasi bertujuan untuk membantu  individu agar memiliki pemahaman tentang berbagai hal yang penting dari suasana yang dijumpainnya. Hal-hal yang baru dijumpai diolah oleh individu, dan digunakan untuk susuatu yang menguntungkan. Dilihat dari fungsi pencegahan, layanan orientasi bertujuan untuk membantu individu agar terhindar dari hal-hal negatif yang dapat timbul apabila individu  tidak memahami situasi atau lingkungan yang baru. Dilihat dari fungsi pengembangan, apabila individu mampu menyesuaikan diri secara baik dan mampu memanfaatkan secara konstruktif sumber-sumber yang ada pada situasi yang baru, maka individu dapat mengembangkan dan memelihara potensi dirinya. Isi layanan orientasi adalah berbagai hal yang berhubungan dengan suasana, lingkungan, dan objek-objek yang baru bagi individu. Hal tersebut mencangkup bidang-bidang:
a)      Pengembangan pribadi.
b)      Pengembangan hubungan sosial.
c)      Pengembangan kegiatan belajar.
d)      Pengembangan karier.
e)      Pengembangan kehidupan berkeluarga.
f)        Pengembangan kehidupan beragama.
Layanan orientasi bisa dilaksanakan dengan teknik-teknik: pertama, peyajian, yaitu melalui ceramah, tanya jawab, dan diskusi. Kedua, pengamatan, yaitu melihat lagsung objek-objek yang terkait dengan isi layanan. Ketiga, partisipasi, yaitu dengan melibatkan diri secara langsung dalam suasana dan kegiata, mecoba dan mengalami sendiri. Keempat, studi dokumentasi, yaitu dengan membaca dan mempelajari berbagai dokumen yang terkait. Kelima, kontemplasi, yaitu dengan memikirkan dan merenungkan secara mendalam tentang berbagai hal yang menjadi isi layanan. Teknik-teknik tersebut diatas dilakukan oleh konselor, penyaji, narasumber, dan peserta layanan sesuai dengan peran masing-masing.
Kegiatan pendukung layanan orientasi dapat berupa, pertama, aplikasi instrumental dan himpunan data. Pengungkapan masalah individu melalui instrumen tertentu, misalnya tes dapat menjadi bahan pertimbangan untuk layanan orientasi, terutama untuk menetapkan isi layanan sekaligus individu yang akan menjadi peserta layanan. Kedua, Konferensi kasus. Konferensi kasus harus diarahkan untuk mengidentifikasi hal-hal apa saja yang perlu dijadikan fokus atau isi layanan. Ketiga, kunjungan rumah, Konselor (pembimbing) bisa melakukan kunjungan rumah untuk lebih mendalami dat siswa atau untuk memeriksa data sesuai dengan kebutuhan layanan. Keempat, alih tangan kasus. Kegiatan ini dilaksanakan apabila kurang terpenuhinya kebutuhan peserta layanan (siswa) oleh konselor, terutama kebutuhan diluar kewenangan konselor.
b.      Layanan Informasi
Layanan informasi bertujuan agar individu (siswa) mengetahui menguasai informasi yang selanjutnya dimanfaatkan untuk keperluan hidupnya sehari-hari dan pengembangan dirinya. Selain itu, apabila mengacu pada fungsi pemahaman, layanan informasi bertujuan agar individu memahami berbagai informasi dengan segala seluk-beluknya. Penguasaan akan berbagai informasi dapat digunakan untuk mencegah timbulnya masalah, memecahkan suatu masalah, memelihara dan mengembangkan potensi individu (peserta layanan) yang bersangkutan membuka diri dalam mengaktualisasikan hak-haknya.
Layanan informasi juga bertujuan untuk mengembangkan kemandirian. Pemahaman dan penguasaaan individu terhadap informasi yang diperlukannya akan kemungkinan individu: (a) mamp memahami dan menerima diri dan lingkungannya secara objektif, positif, dan dinamis, (b) mengambil keputusan, (c) mengarahkan diri untuk kegiatan-kegiatan yang berguna sesuai dengan keputusan yang diambil, dan (d) mengaktualisasikan dirinya secara terintegrasi.
Informasi yang mmenjadi isi layanan bimbingan dan konseling disekolah atau madrasah adalah, pertama, informasi tentang perkembangan diri. Kedua, informasi tentang huubungan pribadi, sosial, nilai-nilai dan moral. Ketiga, informasi tentang pendidikan kegiatan belajar, dan ilmu pengetahuan dan teknologi. Keempat, informasi tentang dunia politik, dan kewarganegaraan. Keenam, informasi tentang kehidupan berkeluarga. Ketujuh, informasi tentang agama dan kehidupan beragama serta seluk-beluknya.
Layanan informasi dapat diselenggarakan secara langsung dan terbuka oleh pembimbing atau konselor kepada seluruh siswa di sekolah madrasah. Berbagai teknik dan media yang bervariasi serta fleksibel dapat digunakan melalui format klasikal dan kelompok.
Pelaksanaan layanan informasi menempuh tahapan-tahapan sebagai berikut: pertama, perencanaan yang mencangkup kegiatan:
a)      Identifikasi kebutuhan akan informasi bagi calon peserta layanan.
b)      Menetapkan materi informasi sebagai isi layanan.
c)      Mennetapkan subjek sasaran layanan.
d)      Menetapkan narasuber.
e)      Menyiapkan prosedur, perangkat, dan media layanan.
f)        Menyiapkan kelengkapan adminitrasi.
Kedua, pelaksanaan yang mencakup kegiatan:
a)      Mengorganisasikan kegiatan layanan.
b)      Mengaktifkan peserta layanan.
c)      Mengoptimalkan penggunaan metode dan media.

Ketiga, evaluasi yang mencakup kegiatan:
a)      Menetapkan materi evaluasi.
b)      Menetapkan prosedur evaluasi.
c)      Menyusun instrumen evaluasi.
d)      Mengaplikasikan instrumen evaluasi.
e)      Mengolah hasil aplikasi instrumen.
Keempat, analisis hasil evaluasi yang mencakup kegiatan:
a)      Menetapkan norma atau standar evaluasi.
b)      Melakukan analisis.
c)      Menafsirkan hasil analisis.
kelima, tindak lanjut yang mencangkup kegiatan:
a)      Menetapkan jenis dan  arah tindak lanjut.
b)      Mengkomunikasikan rencana tindak lanjut kepada pihak terkait.
c)      Melaksanakan rencana tindak lanjut.
Keenam, pelaporan yang mencangkup kegiatan:
a)      Menyusun  laporan layanan informasi.
b)      Menyampaikan laporan kepada pihak terkait (kepala sekolah atau madrasah).
c)      Mendokumentasikan laporan.

c.       Layanan Penempatan dan Penyaluran
Layanan penempatan dan penyaluran bertujuan supaya siswa bisa menempati diri dalam program studi akademik dan lingkup kegiatan nonakademik yang menunjang perkembangannya serta semakin mampu untuk merealisasikan rencana masa depan (Winkel, 1991). Dengan kata lain, layanan penempatan dan penyaluran bertujuan agar siswa memperoleh tempat yang sesuai untuk pengembangan potensi dirinya. Tempat yang dimaksud adalah ligkungan, baik fisik maupun psikis, atau lingkungan sosial-emisional, termasuk lingkungan budaya yang secara langsung berpegaruh terhadap kehidupan dan perkembangan siswa.
Terkait dengan fungsi-fungsi bimbingan dan konseling yang mencerminkan tujuan secara lebih khusus, tujuan layanan penempatan dan penyaluran adalah sebagai berikut: pertama, fungsi pemahaman. Terkait dengan fungsi ini, tujuan layanan penempatan dan penyaluran adalah agar siswa memahami potensi dan kondisi dirinya sendiri serta kondisi lingkungannya. Kedua, fungsi pencegahan. Terkait dengan fungsi ini, tujuan layanan penempatan dan penyaluran adalah untuk mencegah semakin parahnya masalah, hambatan dan erugian  yang dialami individu (siswa). ketiga, fungsi pengentasan. Terkait dengan fungsi ini, tujuan layanan penempatan dan penyaluran adalah ntuk mengangkat individu dari kondisi yang tidak baik kepada kondisi yang lebih baik. Fungsi ini berkaitan dengan fungsi pencegahan dimana layanan ini berupaya mengatasi masalah siswa dengan menempatkannya pada kondisi yang sesuai (kondusif) dengan kebutuhannya. Keempat, fungsi pengembangan dan pemeliharaan. Terkait dengan fungsi ini, maka tujuan layanan penempatan dan peyaluran adalah untuk mengembangkan potensi-potensi individu dam memeliharanya dari hal-halyang dapat menhambat dan merugukan perkembangannya.
Guna mengkaji potensi dan kondisi diri subjek seperti disebutkan di atas, dapat dilakukan hal-hal berikut ini. Pertama, studi dokumentasi terhadap hasil-hasil aplikasi instrumentasi dan himpunan data. Kedua, observasi terhadap kondisi jasmaniah, kemampuan berkomunikasi, dan tingkah laku siswa, suasana hubungan sosio-emosional siswa dengan siswa lainnya, dan kondisi fisiklingkungan. Ketiga, studi terhadap aturan, baik tertulis maupun tidak tetulis, yang diberlakukan. Keempat, studi kondisi lingkungan yang prospektif dan kondisi bagi perkembangan siswa. kelima, wawancara dengan pihak-pihak yang terkait.
d.      Layanan Penguasaan Konten
Penguasaan konten (kemampuan atau kompetensi) oleh siswa, akan berguna untuk menambah wawasan dan pemahaman,  mengarahkan peniliaian dab sikap, menguasai cara-cara tertentu, untuk memenuhi kebutuhan dan mengatasi masalah-masalahnya. Konten yang merupakan isi layanan ini merupakan satu unit materi yang menjadi pokok bahasan atau materi latihan yang dikembangkan oleh pembimbing atau konselor dan diikuti oleh sejmlah siswa. Isi layanan konten meliputi pengembangan kemampuan berhubungan sosial, pengembangan kegiatan belajar, pengembangan dan perencanaan karier, pengembangan kehidupan berkeluarga, dan pengembangan kehidupan beragama.
Layanan penguasaan konten umumnya diselenggarakan secara langsung (bersifat dektetif) dan tatap mukamelalui format klasikal, kelompok, atau individual. Pembimbing atau konselor secara aktif menyajikan bahan, memberi contoh, merangsang (memotivasi), medorong atau menggerakan siswa untuk berpartisipasi aktif untuk mengikuti materi dan kegiatan layanan.
Pembimbing (konselor) pun harus menguasai konten dengan berbagai aspeknya yang menjadi isi layanan. Penguasaan konten oleh pembimbing (konselor) akan mempengaruhi kewajibannya dihadapan peserta layanan (siswa). Daya improvisasi pembimbing (konselor) sangat diperlukan dalam membangun konten yang dimanis dan kaya. Setelah konten dikuasai, pembimbing (konselor) bisa mengimplementasikannya dalm kegiatan layanan penguasaan konten melalui teknik-teknik berikut ini. Pertama, penyajian materi pokok konten setelah siswa disiapkan sebagaimana mestinya. Kedua, tanya jawab dan diskusi. Ketiga, melakukan kegiatan lanjutan, misalnya melalui diskusi kelompok, penguasaan, dan latihan terbatas, survei lapangan atau studi kepustakaan, percobaan (termasuk kegiatan laboratorium, bengkel dan studio).


e.      Layanan Konseling Perorangan
Secara perorangan, setiap siswa dapat membawa masalah yang dialaminya kepada guru bimbingan atau guru kelas di SD. Lebih lanjut, guru pembimbing atau guru kelas akan melayani semua siswa dengan berbagai permasalahan itu seorang demi seorang, tanpa membedakan pribadi siswa atau permasalahan yang dihadapinya.
Tujuan layanan konseling perorangan adalah agar klien memahami kondisi dirinya sendiri, lingkungannya, permasalahan yang dialami, kekuatan dan kelemahan dirinya sehingga klien mampu mengatasinya. Dengan kata lain, konseling perorangan bertujuan unutk mengentaskan masalah yang dialami klien.
Secara lebih khusus, tujuan layanan konseling perorangan mengacu pada fungsi-fungsi bimbingan dan konseling. Pertama, terkait dengan fungsi pemahaman, dimana tujuan layanan konseling adalah agar klien memahami seluk-beluk yang dialami secara mendalam dan komprehensif, positif, dan dinamis. Kedua, terkait dengan fungsi pengentasan, dimana layanan konseling perorangan bertujuan untuk mengentaskan klien dari masalah yang dihadapinya. Ketiga, dilihat dari fungsi pengembangan dan pemeliharaan, dimana tujuan layanan konseling perorangan adalah untuk mengembangkan potensi-potensi individu dan memelihara unsur-unsur positif yang ada pada diri klien.
Masalah-masalah yang bisa dijadikan isi layanan konseling perorangan mencangkup:
Masalah-masalah yang berhubungan dengan bidang pengembangan pribadi.
a)      Bidang pengembangan sosial.
b)      Bidang pengembangan pendidikan atau kegiatan belajar.
c)      Bidang pengembangan karier.
d)      Bidang pengembangan kehidupan keluarga.
e)      Bidang pengembangan kehidupan berkeluarga.

Semua bidang-bidang diatas bisa dijabarkan kedalam bidang-bidang yang lebih spesifik untuk dijadikan isi layanan konseling perorangan. Dengan kata lain, pembahasan masalah dalam konseling peorangan bersifat meluas, yang meliputi berbagai sisi yang menyangkut masalah klien (siswa), namun juga bersifat spesifik menuju ke arah pengentasan masalah, misalnya masalah yang berhubungan dengan bidang perkmbangan pendidikan atau kegiatan belajar, yang bhisa menyangkut kesulitan belajar, sikap dan prilaku belajar, prestasi rendah, dan lain sebagainya.




f.        Layanan Bimbingan Kelompok
Layanan bimbingan kelompok harus dipimpin oleh pemimpin kelompok. Pemimpin kelompok adalah konselor yan terlatih dan berwenang untuk menyelenggarakan peraktik pelayanan bimbingan dan konseling. Tugas utama pemimpin kelompok adalah: pertama, membentuk kelompok sehingga terpenuhi syarat-syarat kelompok yang mampu mengembangkan dinamika kelompok. Kedua, mempimpin kelompok yang bernuansa layanan konseling melalui bahasa konseling penstrukturan, yaitu membahas bersama anggota kelompok tentang apa, mengapa, dan bagaimana layanan konseling kelompok dilaksanakan. Ketiga, memberikan tahapan kegiatan konseling kelompok. Keempat, memberikan penilaian segera hasil layanan konseling kelompok. Kelima, melakukan tindakan lanjut.
Secara umum, layanan bimbingan kelompok bertujuan untuk pengembangan kemampuan bersosialisasi, khususnya kemampuan berkomunikasi peserta layanan (siswa). Secara lebih khusus, layanan bimbingan kelompok bertujuan untuk mendorong pengembangan perasaan, pikiran, persepsi, wawasan dan sikap yang menunjang perwujudan tingkah lakuyang lebih efektif, yakni peningkatan kemampuan berkomunikasi para siswa, baik verbal maupun nonverbal.
Topik-topik yang dibahas dalam layanan bimbingan kelompok baik topik bebas maupun topik maupun tugas dapat mencangkup bidang-bidang pengembangan kepribadian, hubungan sosial, pendidikan, karier, kehidupan berkeluarga, kehidupan beragama, dan lain sebagainya. Topik pembahasan bidang-bidang diatas dapat diperluas kedalam sub-sub bidang yang relavan, misalnya penembangan bidang pendidikan dapat mencangkup masalah cara belajar, kesulitan belajar, gagal ujian, dan lain sebagainya.








Prayitno.2009. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta:Asdi Mahasatya
Sulistyarini. 2013. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta:Gramedia