· Perlunya Bimbingan dan Konseling
Tingkat
kenakalan remaja dan perkelahian pelajar yang semakin meningkat menunjukan
gejala kurang berkembangnya dimensi kesosialan dan kesusilaan mereka. Demikian
juga kurangnya penghayatan terhadap nilai-nilai Ketuhanan dan praktek-praktek
kehidupan yang tidak didasarkan atas kaidah-kaidah agama mrnggambarkan kurang
mantapnya pengembangan dimensi keberagamaan. Permasalahan yang banyak terjadi
di masyarakat, seperti pertengkaran antarwarga masyarakat, rendahnya disiplin
kerja, pengangguran, pencurian, perjudian, dll merupakan gejala rendahnya
pengembangan keempat dimensi kemanusiaan tersebut.
Permasalahan
yang dialami para siswa di sekolah sering kali tidak dapat dihindari, meski
dengan pengajaran yang baik sekalipun. Hal ini terlebih lagi disebabkan karena
sumber-sumber permasalahan siswa banyak yang terletak di luar sekolah. Dalam
kaitan itu, permasalahan siswa tidak boleh dibiarkan begitu saja. Apabila misi
sekolah adalah menyediakan pelayanan yang luas untuk secara efektif membantu
siswa mencapai tujuan-tujuan perkembangannya dan mengatasi permasalahannya,
maka segenap kegiatan dan kemudahan yang diselenggarakan sekolah perlu
diarahkan ke sana. Disinilah dirasakan perlunya pelayanan bimbingan dan
konseling di samping kegiatan pengajaran. Dalam tugas pelayanan yang luas,
bimbingan dan konseling di sekolah adalah pelayanan untuk semua murid yang
mengacu pada keseluruhan perkembangan mereka, yang meliputi keempat dimensi
kemanusiaannya dalam rangka mewujudkan manusia seutuhnya.
Pelayanan
bimbingan dan konseling di sekolah di Indonesia sebenarnya telah dirintis sejak
tahun 1960-an. Mulai tahun 1975 pelayanan bimbingan dan konseling telah secara
resmi memasuki sekolah-sekolah, yaitu dengan dicantumkannya pelayanan tersebut
pada Kurikulum 1975 yang berlaku di sekolah-sekolah seluruh indonesia, pada
jenjang SD,SLTP dan SLTA. Pada Kurikulum 1984 keberadaan bimbingan dan
konseling lebih dimantapkan lagi.
·
Jenis-jenis
Layanan Bimbingan Konseling di Sekolah dan Madrasah
Terdapat beberapa jenis
layanan bimbingan konseling di sekolah dan madrasah, antara lain layanan
orientasi, layanan informasi, layanan penempatan dan penyaluran, layanan
penguasaan konten, layanan konseling perorangan, dan layanan bimbingan
kelompok.
a.
Layanan
Orientasi
Layanan
orientasi bertujuan untuk membantu individu agar mampu menyesuaikan diri dengan
lingkungan atau situasi baru. Dengan kata lain, ini bertujuan agar individu
dapat memperoleh manfaat sebesar-besarnya dari berbagai sumber yang ada pada
suasana atau lingkungan baru tersebut. Layanan ini juga akan mengantarkan
individu untuk memasuki suasana aau ligkungan baru. Tujuan layanan orientasi
berhubungan dengan fungsi-fungsi tertentu pelayanan bimbingan dan konseling
dilihat dari fungsi pemahaman, layanan orientasi bertujuan untuk membantu individu agar memiliki pemahaman tentang
berbagai hal yang penting dari suasana yang dijumpainnya. Hal-hal yang baru
dijumpai diolah oleh individu, dan digunakan untuk susuatu yang menguntungkan.
Dilihat dari fungsi pencegahan, layanan orientasi bertujuan untuk membantu
individu agar terhindar dari hal-hal negatif yang dapat timbul apabila
individu tidak memahami situasi atau
lingkungan yang baru. Dilihat dari fungsi pengembangan, apabila individu mampu
menyesuaikan diri secara baik dan mampu memanfaatkan secara konstruktif
sumber-sumber yang ada pada situasi yang baru, maka individu dapat
mengembangkan dan memelihara potensi dirinya. Isi layanan orientasi adalah
berbagai hal yang berhubungan dengan suasana, lingkungan, dan objek-objek yang
baru bagi individu. Hal tersebut mencangkup bidang-bidang:
a)
Pengembangan pribadi.
b)
Pengembangan hubungan sosial.
c)
Pengembangan kegiatan belajar.
d)
Pengembangan karier.
e)
Pengembangan kehidupan
berkeluarga.
f)
Pengembangan kehidupan
beragama.
Layanan
orientasi bisa dilaksanakan dengan teknik-teknik: pertama, peyajian, yaitu
melalui ceramah, tanya jawab, dan diskusi. Kedua, pengamatan, yaitu melihat
lagsung objek-objek yang terkait dengan isi layanan. Ketiga, partisipasi, yaitu
dengan melibatkan diri secara langsung dalam suasana dan kegiata, mecoba dan
mengalami sendiri. Keempat, studi dokumentasi, yaitu dengan membaca dan
mempelajari berbagai dokumen yang terkait. Kelima, kontemplasi, yaitu dengan
memikirkan dan merenungkan secara mendalam tentang berbagai hal yang menjadi
isi layanan. Teknik-teknik tersebut diatas dilakukan oleh konselor, penyaji,
narasumber, dan peserta layanan sesuai dengan peran masing-masing.
Kegiatan
pendukung layanan orientasi dapat berupa, pertama, aplikasi instrumental dan
himpunan data. Pengungkapan masalah individu melalui instrumen tertentu,
misalnya tes dapat menjadi bahan pertimbangan untuk layanan orientasi, terutama
untuk menetapkan isi layanan sekaligus individu yang akan menjadi peserta
layanan. Kedua, Konferensi kasus. Konferensi kasus harus diarahkan untuk mengidentifikasi
hal-hal apa saja yang perlu dijadikan fokus atau isi layanan. Ketiga, kunjungan
rumah, Konselor (pembimbing) bisa melakukan kunjungan rumah untuk lebih
mendalami dat siswa atau untuk memeriksa data sesuai dengan kebutuhan layanan.
Keempat, alih tangan kasus. Kegiatan ini dilaksanakan apabila kurang
terpenuhinya kebutuhan peserta layanan (siswa) oleh konselor, terutama
kebutuhan diluar kewenangan konselor.
b.
Layanan
Informasi
Layanan
informasi bertujuan agar individu (siswa) mengetahui menguasai informasi yang
selanjutnya dimanfaatkan untuk keperluan hidupnya sehari-hari dan pengembangan
dirinya. Selain itu, apabila mengacu pada fungsi pemahaman, layanan informasi
bertujuan agar individu memahami berbagai informasi dengan segala seluk-beluknya.
Penguasaan akan berbagai informasi dapat digunakan untuk mencegah timbulnya
masalah, memecahkan suatu masalah, memelihara dan mengembangkan potensi
individu (peserta layanan) yang bersangkutan membuka diri dalam
mengaktualisasikan hak-haknya.
Layanan
informasi juga bertujuan untuk mengembangkan kemandirian. Pemahaman dan
penguasaaan individu terhadap informasi yang diperlukannya akan kemungkinan
individu: (a) mamp memahami dan menerima diri dan lingkungannya secara
objektif, positif, dan dinamis, (b) mengambil keputusan, (c) mengarahkan diri
untuk kegiatan-kegiatan yang berguna sesuai dengan keputusan yang diambil, dan
(d) mengaktualisasikan dirinya secara terintegrasi.
Informasi
yang mmenjadi isi layanan bimbingan dan konseling disekolah atau madrasah
adalah, pertama, informasi tentang perkembangan diri. Kedua, informasi tentang
huubungan pribadi, sosial, nilai-nilai dan moral. Ketiga, informasi tentang
pendidikan kegiatan belajar, dan ilmu pengetahuan dan teknologi. Keempat,
informasi tentang dunia politik, dan kewarganegaraan. Keenam, informasi tentang
kehidupan berkeluarga. Ketujuh, informasi tentang agama dan kehidupan beragama
serta seluk-beluknya.
Layanan
informasi dapat diselenggarakan secara langsung dan terbuka oleh pembimbing
atau konselor kepada seluruh siswa di sekolah madrasah. Berbagai teknik dan
media yang bervariasi serta fleksibel dapat digunakan melalui format klasikal
dan kelompok.
Pelaksanaan
layanan informasi menempuh tahapan-tahapan sebagai berikut: pertama,
perencanaan yang mencangkup kegiatan:
a)
Identifikasi kebutuhan akan
informasi bagi calon peserta layanan.
b)
Menetapkan materi informasi
sebagai isi layanan.
c)
Mennetapkan subjek sasaran
layanan.
d)
Menetapkan narasuber.
e)
Menyiapkan prosedur, perangkat,
dan media layanan.
f)
Menyiapkan kelengkapan
adminitrasi.
Kedua, pelaksanaan yang
mencakup kegiatan:
a)
Mengorganisasikan kegiatan
layanan.
b)
Mengaktifkan peserta layanan.
c)
Mengoptimalkan penggunaan
metode dan media.
Ketiga,
evaluasi yang mencakup kegiatan:
a)
Menetapkan materi evaluasi.
b)
Menetapkan prosedur evaluasi.
c)
Menyusun instrumen evaluasi.
d)
Mengaplikasikan instrumen
evaluasi.
e)
Mengolah hasil aplikasi
instrumen.
Keempat, analisis hasil
evaluasi yang mencakup kegiatan:
a)
Menetapkan norma atau standar
evaluasi.
b)
Melakukan analisis.
c)
Menafsirkan hasil analisis.
kelima, tindak lanjut
yang mencangkup kegiatan:
a)
Menetapkan jenis dan arah tindak lanjut.
b)
Mengkomunikasikan rencana
tindak lanjut kepada pihak terkait.
c)
Melaksanakan rencana tindak
lanjut.
Keenam, pelaporan yang
mencangkup kegiatan:
a)
Menyusun laporan layanan informasi.
b)
Menyampaikan laporan kepada
pihak terkait (kepala sekolah atau madrasah).
c)
Mendokumentasikan laporan.
c.
Layanan
Penempatan dan Penyaluran
Layanan
penempatan dan penyaluran bertujuan supaya siswa bisa menempati diri dalam
program studi akademik dan lingkup kegiatan nonakademik yang menunjang
perkembangannya serta semakin mampu untuk merealisasikan rencana masa depan
(Winkel, 1991). Dengan kata lain, layanan penempatan dan penyaluran bertujuan
agar siswa memperoleh tempat yang sesuai untuk pengembangan potensi dirinya.
Tempat yang dimaksud adalah ligkungan, baik fisik maupun psikis, atau
lingkungan sosial-emisional, termasuk lingkungan budaya yang secara langsung
berpegaruh terhadap kehidupan dan perkembangan siswa.
Terkait
dengan fungsi-fungsi bimbingan dan konseling yang mencerminkan tujuan secara
lebih khusus, tujuan layanan penempatan dan penyaluran adalah sebagai berikut:
pertama, fungsi pemahaman. Terkait dengan fungsi ini, tujuan layanan penempatan
dan penyaluran adalah agar siswa memahami potensi dan kondisi dirinya sendiri
serta kondisi lingkungannya. Kedua, fungsi pencegahan. Terkait dengan fungsi
ini, tujuan layanan penempatan dan penyaluran adalah untuk mencegah semakin
parahnya masalah, hambatan dan erugian
yang dialami individu (siswa). ketiga, fungsi pengentasan. Terkait
dengan fungsi ini, tujuan layanan penempatan dan penyaluran adalah ntuk
mengangkat individu dari kondisi yang tidak baik kepada kondisi yang lebih
baik. Fungsi ini berkaitan dengan fungsi pencegahan dimana layanan ini berupaya
mengatasi masalah siswa dengan menempatkannya pada kondisi yang sesuai
(kondusif) dengan kebutuhannya. Keempat, fungsi pengembangan dan pemeliharaan.
Terkait dengan fungsi ini, maka tujuan layanan penempatan dan peyaluran adalah
untuk mengembangkan potensi-potensi individu dam memeliharanya dari hal-halyang
dapat menhambat dan merugukan perkembangannya.
Guna
mengkaji potensi dan kondisi diri subjek seperti disebutkan di atas, dapat
dilakukan hal-hal berikut ini. Pertama, studi dokumentasi terhadap hasil-hasil
aplikasi instrumentasi dan himpunan data. Kedua, observasi terhadap kondisi
jasmaniah, kemampuan berkomunikasi, dan tingkah laku siswa, suasana hubungan sosio-emosional
siswa dengan siswa lainnya, dan kondisi fisiklingkungan. Ketiga, studi terhadap
aturan, baik tertulis maupun tidak tetulis, yang diberlakukan. Keempat, studi
kondisi lingkungan yang prospektif dan kondisi bagi perkembangan siswa. kelima,
wawancara dengan pihak-pihak yang terkait.
d.
Layanan
Penguasaan Konten
Penguasaan
konten (kemampuan atau kompetensi) oleh siswa, akan berguna untuk menambah
wawasan dan pemahaman, mengarahkan
peniliaian dab sikap, menguasai cara-cara tertentu, untuk memenuhi kebutuhan
dan mengatasi masalah-masalahnya. Konten yang merupakan isi layanan ini
merupakan satu unit materi yang menjadi pokok bahasan atau materi latihan yang
dikembangkan oleh pembimbing atau konselor dan diikuti oleh sejmlah siswa. Isi
layanan konten meliputi pengembangan kemampuan berhubungan sosial, pengembangan
kegiatan belajar, pengembangan dan perencanaan karier, pengembangan kehidupan
berkeluarga, dan pengembangan kehidupan beragama.
Layanan
penguasaan konten umumnya diselenggarakan secara langsung (bersifat dektetif)
dan tatap mukamelalui format klasikal, kelompok, atau individual. Pembimbing
atau konselor secara aktif menyajikan bahan, memberi contoh, merangsang
(memotivasi), medorong atau menggerakan siswa untuk berpartisipasi aktif untuk
mengikuti materi dan kegiatan layanan.
Pembimbing
(konselor) pun harus menguasai konten dengan berbagai aspeknya yang menjadi isi
layanan. Penguasaan konten oleh pembimbing (konselor) akan mempengaruhi
kewajibannya dihadapan peserta layanan (siswa). Daya improvisasi pembimbing
(konselor) sangat diperlukan dalam membangun konten yang dimanis dan kaya.
Setelah konten dikuasai, pembimbing (konselor) bisa mengimplementasikannya dalm
kegiatan layanan penguasaan konten melalui teknik-teknik berikut ini. Pertama,
penyajian materi pokok konten setelah siswa disiapkan sebagaimana mestinya.
Kedua, tanya jawab dan diskusi. Ketiga, melakukan kegiatan lanjutan, misalnya
melalui diskusi kelompok, penguasaan, dan latihan terbatas, survei lapangan
atau studi kepustakaan, percobaan (termasuk kegiatan laboratorium, bengkel dan
studio).
e.
Layanan
Konseling Perorangan
Secara
perorangan, setiap siswa dapat membawa masalah yang dialaminya kepada guru
bimbingan atau guru kelas di SD. Lebih lanjut, guru pembimbing atau guru kelas
akan melayani semua siswa dengan berbagai permasalahan itu seorang demi
seorang, tanpa membedakan pribadi siswa atau permasalahan yang dihadapinya.
Tujuan
layanan konseling perorangan adalah agar klien memahami kondisi dirinya
sendiri, lingkungannya, permasalahan yang dialami, kekuatan dan kelemahan
dirinya sehingga klien mampu mengatasinya. Dengan kata lain, konseling
perorangan bertujuan unutk mengentaskan masalah yang dialami klien.
Secara
lebih khusus, tujuan layanan konseling perorangan mengacu pada fungsi-fungsi
bimbingan dan konseling. Pertama, terkait dengan fungsi pemahaman, dimana
tujuan layanan konseling adalah agar klien memahami seluk-beluk yang dialami
secara mendalam dan komprehensif, positif, dan dinamis. Kedua, terkait dengan
fungsi pengentasan, dimana layanan konseling perorangan bertujuan untuk
mengentaskan klien dari masalah yang dihadapinya. Ketiga, dilihat dari fungsi
pengembangan dan pemeliharaan, dimana tujuan layanan konseling perorangan
adalah untuk mengembangkan potensi-potensi individu dan memelihara unsur-unsur
positif yang ada pada diri klien.
Masalah-masalah
yang bisa dijadikan isi layanan konseling perorangan mencangkup:
Masalah-masalah yang
berhubungan dengan bidang pengembangan pribadi.
a)
Bidang pengembangan sosial.
b)
Bidang pengembangan pendidikan
atau kegiatan belajar.
c)
Bidang pengembangan karier.
d)
Bidang pengembangan kehidupan
keluarga.
e)
Bidang pengembangan kehidupan
berkeluarga.
Semua
bidang-bidang diatas bisa dijabarkan kedalam bidang-bidang yang lebih spesifik
untuk dijadikan isi layanan konseling perorangan. Dengan kata lain, pembahasan
masalah dalam konseling peorangan bersifat meluas, yang meliputi berbagai sisi
yang menyangkut masalah klien (siswa), namun juga bersifat spesifik menuju ke
arah pengentasan masalah, misalnya masalah yang berhubungan dengan bidang
perkmbangan pendidikan atau kegiatan belajar, yang bhisa menyangkut kesulitan
belajar, sikap dan prilaku belajar, prestasi rendah, dan lain sebagainya.
f.
Layanan
Bimbingan Kelompok
Layanan
bimbingan kelompok harus dipimpin oleh pemimpin kelompok. Pemimpin kelompok
adalah konselor yan terlatih dan berwenang untuk menyelenggarakan peraktik
pelayanan bimbingan dan konseling. Tugas utama pemimpin kelompok adalah:
pertama, membentuk kelompok sehingga terpenuhi syarat-syarat kelompok yang
mampu mengembangkan dinamika kelompok. Kedua, mempimpin kelompok yang bernuansa
layanan konseling melalui bahasa konseling penstrukturan, yaitu membahas
bersama anggota kelompok tentang apa, mengapa, dan bagaimana layanan konseling
kelompok dilaksanakan. Ketiga, memberikan tahapan kegiatan konseling kelompok.
Keempat, memberikan penilaian segera hasil layanan konseling kelompok. Kelima,
melakukan tindakan lanjut.
Secara
umum, layanan bimbingan kelompok bertujuan untuk pengembangan kemampuan
bersosialisasi, khususnya kemampuan berkomunikasi peserta layanan (siswa).
Secara lebih khusus, layanan bimbingan kelompok bertujuan untuk mendorong
pengembangan perasaan, pikiran, persepsi, wawasan dan sikap yang menunjang
perwujudan tingkah lakuyang lebih efektif, yakni peningkatan kemampuan
berkomunikasi para siswa, baik verbal maupun nonverbal.
Topik-topik
yang dibahas dalam layanan bimbingan kelompok baik topik bebas maupun topik
maupun tugas dapat mencangkup bidang-bidang pengembangan kepribadian, hubungan
sosial, pendidikan, karier, kehidupan berkeluarga, kehidupan beragama, dan lain
sebagainya. Topik pembahasan bidang-bidang diatas dapat diperluas kedalam
sub-sub bidang yang relavan, misalnya penembangan bidang pendidikan dapat
mencangkup masalah cara belajar, kesulitan belajar, gagal ujian, dan lain
sebagainya.
Prayitno.2009. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta:Asdi Mahasatya
Sulistyarini. 2013. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta:Gramedia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar