·
Tujuan
Bimbingan dan Konseling
Untuk
membantu individu membuat pilihan-pilihan, penyesuaian-penyesuaian dan
interpretasi-interpretasi dalm hubungannya dengan situasi-situasi tertentu.
(Harmin & Clifford, dalam Jones,
1951)
Untuk
membantu orang-orang menjadi insan yang berguna, tidak hanya sekedar mengikuti
kegiatan-kegiatan yang berguna saja. (Tiedeman, dalam Bernard & Fullmer, 1969)
Dengan proses konseling klien
dapat:
- mendapat dukungan selagi klien memadukan
segenap kekuatan dan kemampuan untuk
mengatasi permasalahan yang dihadapi.
- memperoleh wawasan
baru yang lebih segar tentang tentang berbagai alternatif, pandangan dan
pemahaman-pemahaman, serta keterampilan-keterampilan baru.
- menghadapi
kekuatan-kekuatan sendiri; mencapai kemampuan untuk mengambil keputusan dan
keberanian untuk melaksanakannya; kemampuan untuk mengambil resiko yang mungkin
ada dalam proses pencapaian tujuan-tujuan yang dikehendaki. (Coleman, dalam Thompson & Rudolph, 1938)
Adapun tujuan khusus
bimbingan dan konseling merupakan penjabaran tujuan umum tersebut yang
dikaitkan secara langsung dengan permasalahan yang dialami oleh individu yang
bersangkutan, sesuai dengan kompleksitas permasalahannya itu. Masalah-masalah
individu bermacam ragam jenis, intensitas, dan sangkut-pautnya, serta
masing-masing bersifat unik. Oleh karena itu tujuan khusus bimbingan dan
konseling untuk masing-masing individu bersifat unik pula. Tujuan bimbingan dan
konseling untuk seorang individu berada dari (dan tidak boleh disamakan dengan)
tujuan bimbingan dan konseling untuk individu lainnya.
A.
Tujuan
program bimbingan di sekolah dasar
1.
Secara umum bimbingan disekolah
dasar bertujuan membantu murid agar:
a.
Memperkembangkan pengertian dan
pemahaman diri dalam kemajuan di sekolah;
b.
Memperkembangkan pengetahuan
tentang dunia kerja, kesempatan kerja,
serta rasa tanggung jawab dalam memilih suatu kesempatan kerja tertentu,
sesuai dengan tingkat pendidikan yang diisyaratkan;
c.
Memperkembangkan kemajuan untuk
memilih, mempertemukan pengetahuan tentang dirinya dengan informasi tentang
kesempatan yang ada secara tepat dan bertanggung jawab;
d.
Mewujudkan penghargaan terhadap
kepentingan dan harga diri dari orang lain.
2.
Secara khusus, bimbingan di
sekolah dasar bertujuan agar setelah mendapat pelayanan bimbingan, murid
sekolah dasar dapat mempergunakan kemampuan yang dimilikinya untuk:
a.
Mengatasi kesulitan dalam
memahami dirinya sendiri;
b.
Mengatasi kesulitan dalam
memahami lingkungannya yang meliputi lingkungan sekolah, keluarga, dan
kehidupan masyarakat yang lebih luas;
c.
Mengatasi kesulitan dalam
mengidentifikasikan masalah dan memecahkan masalah yang dihadapinya;
d.
Mengatasi kesulitan dalam
menyalurkan kemampuan, minat, dan bakatya dalam bidang pendidikan dan
kemungkinan pekerjaan secara tepat.
3.
Secara lebih khusus lagi,
bimbingan di sekolah dasar bertujuan agar setelah mendapat bimbingan khusus
murid-murid yang mempunyai kesulitan seperti tertulis dibawah ini dengan
kemampuan yang dimilikinya dapat mengatasinya secara optimal. Kesulitan-kesulitan
yang dimaksud pada umumnya meliputi hal-hal sebagai berikut:
a.
Kesulitan dalam belajar, yang
ditandai oleh prestasi belajar yang terendah, dan terutama disebabkan oleh:
-
kemampuan belajar yang rendah (low
learners)
-
ketidak mampuan mempergunakan kemampuan belajar
yang lebih tinggi secara optimal (under
achievers)
-
kekurangan motivasi untuk belajar yang berlatar belakang masalah
sosial-emosional.
b.
Kebiasaan-kebiasaan buruk yang
dilakukan oleh murid-murid dalam situasi belajar-mengajar dan dalam hubungan sosial.
c.
Kesulitan-kesulitan yang
berhubungan dengan kesehatan jasmani.
d.
Kesulitan-kesulitan yang
berhubungan dengan kelanjutan sekolah.
e.
Kesulitan-kesulitan yang
berhubungan dengan perencanaan dan pemilihan jenis pekerjaan setelah selesai
mengikuti pelajaran di sekolah dasar, apabila yang bersangkutan terpaksa tidak
dapat melanjutkan kesekolah yang lebih tinggi.
f.
Kesulitan-kesulitan yang
berhubungan dengan masalah sosial emosional di sekolah, yang berakar pada sikap
murid yang bersangkutan terhadap dirinya sendiri, terhadap lingkungan sekolah,
lingkungan keluarga, dan lingkungan yang lebih luas.
B.
Program
bimbingan di sekolah dasar
Kapunan (1974)
menyebutkan 7 program bimbingan di sekolah dasar, yaitu:
1.
Orientasi terhadap lingkungan
sekolah. Program ini sangat dibutuhkan anak yang baru pertama kali masuk
kedalam lingkungan sekolah. sekolah merupakan tempat yang asing bagi anak,
karena jauh dari lindungan rasa aman keluarganya. Anak akan bertemu dengan
banyak wajah baru, baik itu guru atau teman sekelasnya. Anak yang manja,
pemalu, atau agresif akan menemui banyak kesulitan dalam proses penyesuaian
dalam lingkungan sekolah. Melalui program bimbingan, anak-anak akan merasakan
pengalaman sekolah sebagai pengalaman yang menyenangkan.
2.
Persiapan untuk melanjutkan ke
tingkat sekolah yang lebih lanjut. Anak yang akan lulus dan sedang duduk
dikelas terakhir memerlukan bantuan untuk melanjutkan diri kesekolah lanjutan
pertama. Guru kelas enam mempunyai tugas ini dan kerja sama dengan sekolah
lanjutan perlu diadakan. Guru dapat meminta brosur atau leaflet sekolah lanjutan, lalu memberikan atau menginformasikannya
kepada anak-anak. Guru dapat mengunjungi sekolah-sekolah lanjutan untuk
mengenal situasi sekolah menengah. Program ini dapat membantu anak dalam masa
transisi ke sekolah lanjutan.
3.
Progra testing. Tes yang
dibakukan sebaiknya diberikan pada awal anak masuk sekolah. tes prestasi dan
invetori minat dapat diberikan secara berkala. Hasil observasi dan tes dapat
dipakai sebagai dasar untuk menilai anak dalam proses belajar dan penyesuaian
di sekolah.
4.
Daftar pencatatan pribadi atau commulative records dapat dibuat pada
setiap kelas secara kontinu dan dapat dilanjutkan pada sekolah lanjutannya.
Data ini dapat dipakai membantu anak agar ia dapat dengan lebih baik mengerti
diri dan lingkungannya, dan membantu perencanaan masa depannya, baik
kesejahteraannya maupun perkembangannya.
5.
Program pengajaran remedial.
Program ini sebaiknya diberikan kepada anak yang lambat dan mengalami kesukaran
belajar atau kesukaran penyesuaian terhadap lingkungannya.
6.
Bimbingan terhadap
kegiatan-kegiatan diluar kelas. Program ini merupakan program ekstrakulikuler
seperti program pembinaan OSIS, drama, olahraga, dan kegiatan kemasyarakatan.
Program ini diharapkan dapat menumbuhkan perasaan “memiliki” sekolah dan
masyarakat pada diri siswa sekolah dasar.
7.
Kerja sama dengan orang-tua
siswa. keluarga tetap melakukan lingkungan pertama pertama dan faktor utama
dalam perkembangan anak. Pertemuan orang-tua siswa secara teratur akan membawa
manfaat bagi perkembangan anak-anak di sekolah dasar. Kunjungan guru dan
konselor kerumah orang- tua siswa dapat menciptakan hubungan yang baik antara
sekolah dan orang-tua murid. Demikian pula pertemuan bagi orang-tua dan guru
siswa sangat bermanfaat bagi keselarasan hubungan sekolah dengan orang tua,
sehingga sangat bermanfaat bagi perkembangan anak baik di sekolah maupun di
keluarga.
Prayitno. 2009. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Rineka Cipta
Gunawan, Yusuf. 1992. Pengantar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Gramedia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar