Minggu, 12 Oktober 2014


·        Tujuan Bimbingan dan Konseling
Untuk membantu individu membuat pilihan-pilihan, penyesuaian-penyesuaian dan interpretasi-interpretasi dalm hubungannya dengan situasi-situasi tertentu. (Harmin & Clifford, dalam Jones, 1951)
Untuk membantu orang-orang menjadi insan yang berguna, tidak hanya sekedar mengikuti kegiatan-kegiatan yang berguna saja. (Tiedeman, dalam Bernard & Fullmer, 1969)
Dengan proses konseling klien dapat:
-  mendapat dukungan selagi klien memadukan segenap kekuatan dan kemampuan   untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi.
- memperoleh wawasan baru yang lebih segar tentang tentang berbagai alternatif, pandangan dan pemahaman-pemahaman, serta keterampilan-keterampilan baru.
- menghadapi kekuatan-kekuatan sendiri; mencapai kemampuan untuk mengambil keputusan dan keberanian untuk melaksanakannya; kemampuan untuk mengambil resiko yang mungkin ada dalam proses pencapaian tujuan-tujuan yang dikehendaki. (Coleman, dalam Thompson & Rudolph, 1938)
Adapun tujuan khusus bimbingan dan konseling merupakan penjabaran tujuan umum tersebut yang dikaitkan secara langsung dengan permasalahan yang dialami oleh individu yang bersangkutan, sesuai dengan kompleksitas permasalahannya itu. Masalah-masalah individu bermacam ragam jenis, intensitas, dan sangkut-pautnya, serta masing-masing bersifat unik. Oleh karena itu tujuan khusus bimbingan dan konseling untuk masing-masing individu bersifat unik pula. Tujuan bimbingan dan konseling untuk seorang individu berada dari (dan tidak boleh disamakan dengan) tujuan bimbingan dan konseling untuk individu lainnya.

A.   Tujuan program bimbingan di sekolah dasar

1.      Secara umum bimbingan disekolah dasar bertujuan membantu murid agar:
a.       Memperkembangkan pengertian dan pemahaman diri dalam kemajuan di sekolah;
b.      Memperkembangkan pengetahuan tentang dunia kerja, kesempatan kerja,  serta rasa tanggung jawab dalam memilih suatu kesempatan kerja tertentu, sesuai dengan tingkat pendidikan yang diisyaratkan;
c.       Memperkembangkan kemajuan untuk memilih, mempertemukan pengetahuan tentang dirinya dengan informasi tentang kesempatan yang ada secara tepat dan bertanggung jawab;
d.      Mewujudkan penghargaan terhadap kepentingan dan harga diri dari orang lain.
2.      Secara khusus, bimbingan di sekolah dasar bertujuan agar setelah mendapat pelayanan bimbingan, murid sekolah dasar dapat mempergunakan kemampuan yang dimilikinya untuk:
a.       Mengatasi kesulitan dalam memahami dirinya sendiri;
b.      Mengatasi kesulitan dalam memahami lingkungannya yang meliputi lingkungan sekolah, keluarga, dan kehidupan masyarakat yang lebih luas;
c.       Mengatasi kesulitan dalam mengidentifikasikan masalah dan memecahkan masalah yang dihadapinya;
d.      Mengatasi kesulitan dalam menyalurkan kemampuan, minat, dan bakatya dalam bidang pendidikan dan kemungkinan pekerjaan secara tepat.
3.      Secara lebih khusus lagi, bimbingan di sekolah dasar bertujuan agar setelah mendapat bimbingan khusus murid-murid yang mempunyai kesulitan seperti tertulis dibawah ini dengan kemampuan yang dimilikinya dapat mengatasinya secara optimal. Kesulitan-kesulitan yang dimaksud pada umumnya meliputi hal-hal sebagai berikut:
a.       Kesulitan dalam belajar, yang ditandai oleh prestasi belajar yang terendah, dan terutama disebabkan oleh:
- kemampuan belajar yang rendah (low learners)
- ketidak mampuan mempergunakan kemampuan belajar  yang lebih tinggi secara optimal (under achievers)
- kekurangan motivasi untuk belajar yang berlatar belakang masalah sosial-emosional.
b.      Kebiasaan-kebiasaan buruk yang dilakukan oleh murid-murid dalam situasi belajar-mengajar dan dalam hubungan sosial.
c.       Kesulitan-kesulitan yang berhubungan dengan kesehatan jasmani.
d.      Kesulitan-kesulitan yang berhubungan dengan kelanjutan sekolah.
e.       Kesulitan-kesulitan yang berhubungan dengan perencanaan dan pemilihan jenis pekerjaan setelah selesai mengikuti pelajaran di sekolah dasar, apabila yang bersangkutan terpaksa tidak dapat melanjutkan kesekolah yang lebih tinggi.
f.        Kesulitan-kesulitan yang berhubungan dengan masalah sosial emosional di sekolah, yang berakar pada sikap murid yang bersangkutan terhadap dirinya sendiri, terhadap lingkungan sekolah, lingkungan keluarga, dan lingkungan yang lebih luas.

 B.   Program bimbingan di  sekolah dasar

       Kapunan (1974) menyebutkan 7 program bimbingan di sekolah dasar, yaitu:
1.      Orientasi terhadap lingkungan sekolah. Program ini sangat dibutuhkan anak yang baru pertama kali masuk kedalam lingkungan sekolah. sekolah merupakan tempat yang asing bagi anak, karena jauh dari lindungan rasa aman keluarganya. Anak akan bertemu dengan banyak wajah baru, baik itu guru atau teman sekelasnya. Anak yang manja, pemalu, atau agresif akan menemui banyak kesulitan dalam proses penyesuaian dalam lingkungan sekolah. Melalui program bimbingan, anak-anak akan merasakan pengalaman sekolah sebagai pengalaman yang menyenangkan.
2.      Persiapan untuk melanjutkan ke tingkat sekolah yang lebih lanjut. Anak yang akan lulus dan sedang duduk dikelas terakhir memerlukan bantuan untuk melanjutkan diri kesekolah lanjutan pertama. Guru kelas enam mempunyai tugas ini dan kerja sama dengan sekolah lanjutan perlu diadakan. Guru dapat meminta brosur atau leaflet sekolah lanjutan, lalu memberikan atau menginformasikannya kepada anak-anak. Guru dapat mengunjungi sekolah-sekolah lanjutan untuk mengenal situasi sekolah menengah. Program ini dapat membantu anak dalam masa transisi ke sekolah lanjutan.
3.      Progra testing. Tes yang dibakukan sebaiknya diberikan pada awal anak masuk sekolah. tes prestasi dan invetori minat dapat diberikan secara berkala. Hasil observasi dan tes dapat dipakai sebagai dasar untuk menilai anak dalam proses belajar dan penyesuaian di sekolah.
4.      Daftar pencatatan pribadi atau  commulative records dapat dibuat pada setiap kelas secara kontinu dan dapat dilanjutkan pada sekolah lanjutannya. Data ini dapat dipakai membantu anak agar ia dapat dengan lebih baik mengerti diri dan lingkungannya, dan membantu perencanaan masa depannya, baik kesejahteraannya maupun perkembangannya.
5.      Program pengajaran remedial. Program ini sebaiknya diberikan kepada anak yang lambat dan mengalami kesukaran belajar atau kesukaran penyesuaian terhadap lingkungannya.
6.      Bimbingan terhadap kegiatan-kegiatan diluar kelas. Program ini merupakan program ekstrakulikuler seperti program pembinaan OSIS, drama, olahraga, dan kegiatan kemasyarakatan. Program ini diharapkan dapat menumbuhkan perasaan “memiliki” sekolah dan masyarakat pada diri siswa sekolah dasar.
7.      Kerja sama dengan orang-tua siswa. keluarga tetap melakukan lingkungan pertama pertama dan faktor utama dalam perkembangan anak. Pertemuan orang-tua siswa secara teratur akan membawa manfaat bagi perkembangan anak-anak di sekolah dasar. Kunjungan guru dan konselor kerumah orang- tua siswa dapat menciptakan hubungan yang baik antara sekolah dan orang-tua murid. Demikian pula pertemuan bagi orang-tua dan guru siswa sangat bermanfaat bagi keselarasan hubungan sekolah dengan orang tua, sehingga sangat bermanfaat bagi perkembangan anak baik di sekolah maupun di keluarga.


































Prayitno. 2009. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Rineka Cipta
Gunawan, Yusuf. 1992. Pengantar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Gramedia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar