Sabtu, 27 September 2014

Tujuan Layanan Bimbingan dan Konseling
          Secara umum tujuan layanan bimbingan dan konseling disekolah menengah adalah mengembangkan dasar-dasar pembentukan warga negara yang beriman dan bertaqwa, berkarakter dan bermartabat, meningkatkan kemampuan membaca, menulis dan berhitung, sebagai alat untuk memahami mata pelajaran lainnya, meningkatkan pengalaman belajar yang mandiri, kreatif, dan produktif. Memberikan kecakapan individu unntuk bekerja dan berusaha mandiri. Memberikan bekal pengetahuan, kemampuan, dan sikap dasar yang memungkinkan murid mengikuti pendidikan selanjutnya.
            Sedangkan tujuan secara khusus layanan bimbingan dan konseling di sekolah menengah adalah membantu murid belajar untuk mencapai tujuan perkembangannya, yang meliputi aspek pribadi, sosial, belajar, dan karir sebagai landasan untuk mencapai tujuan bimbingan dan konseling secara umum.
            Untuk dapat mencapai tujuan-tujuan perkembangan tersebut, maka murid perlu meguasai serangkaian tugas-tugas berkaitan dengan perkembangannya atau yang lazim disebut tugas-tugas berkembangan. Pencapaian atau penguasaan tugas-tugas perkembangan tidak sealu berhasil, karena terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhinya. Faktor tersebut bisa datang dari diri sendiri dan bisa datang dari uar atau lingkungan. Apa yang dimaksud dengan tugas-tugas perkembangan, bagaimana wujud tugas-tugas perkembangan murid, lingkungan dan faktor-faktor lainnya yang dapat mempengaruhi penguasaan tugas-tugas perkembangan.

BIMBINGAN DI SEKOLAH MENENGAH
·        Pentingnya Bimbingan di Sekolah Menengah
Bimbingan sangat diperlukan dalam mengadakan pilihan-pilihan dan penyesuaian atau memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi oleh manusia. Bimbingan harus merupakan suatu proses yang terus menerus selama hidup bagi mereka yang membutuhkan pertolongan. Bimbingan preventif di sekolah menengah akan mengurangi kebutuhan bimbingan di kemudian hari.
·        Sifat-sifat Siswa di Sekolah Menengah
Pada umumnya, murid-murid sekolah menengah berumur antara 12 dan 18 tahun. Masa usia ini merupakan masa remaja dan merupakan masa yang penuh perubahan dalam pertumbuhan fisik, mental, sosial, dan emosional. Masa ini merupakan masa pertumbuhan yang cepat dalam tinggi dan berat badan, kekuatan fisik, serta dunia sosial. Dalam masa ini anak mengalami dan merasakan perasaan kebebasan pribadi dan keinginannya untuk bersatu dengan yang lain dalam berteman. Para remaja umumnya sulit membuka dirinya terhadap orang lain dan sukar mengetahui diri sendiri dalam proses perubahannya. Mereka juga sukar mengakui bahwa mereka membutuhkan bimbingan, dan mereka menolak pertolongan dari orang dewasa. Masa remaja dimulai dengan perubahan fisik, ketika tanda-tanda kelamin yang primer atau yang sekunder berkembang, juga disertai dengan perubahan sifat-sifat psikis, sifat-sifat mental, dan sosial serta sikapnya terhadap -sekolah, guru, orang tua, dan penguasa lainnya. Perubahan-perubahan minat pun tampak jelas, terutama perubahan minat terhadap nilai-nilai kesusastaraan, kesenian, dan kemasyarakatan. Sifat-sifat siswa sekolah menengah dapat dilihat dari aspek kepribadian dalam kaitannya dengan bimbingan.
A.   Perkembangan Emosional dan Bimbingan
Halangan-halangan emosional terjadi pada usia tertentu pada perkembangan seseorang pada semua jenjang sekolah. Perkembangan fisik dengan bertambahnya kekuatan badan, dorongan seksual, rasa tanggung jawab karena semakin dewasa merupakan penyebab-penyebab yang sangat penting dari perubahan-perubahan emosional dan ketidak senangan jiwa. Keadaan-keadaan emosional semacam itu sering kali menjadi penyebab ketidaksesuaian atau keidaksenagan siswa. Siswa membutuhkan bimbingan dalam pertumbuhannya menuju ke “kedewasaan emosional”, yaitu dalam kemampuan siswa mengarahkan emosi-emosi dasarnya yang sangat kuat kepada kegiatan-kegiatan yang dapat menuju tercapainya tujuan yang diinginkan oleh masyarakat dan memuaskan bagi diri sendiri.



B.   Perkembangan Fisik dan Bimbingan
Kebutuhan fisik yang khas terjadi pada siswa sekolah menengah, berkisar pada masa pertumbuhannya yang cepat dan kedewasaan fisiologis. Bersamaan dengan perubahan-perubahan ini sering terjadi pula semakin berkurangnya vitalitas siswa, adanya kelesuan, koordinasi yang kurang sempurna, kemampuan-kemampuan yang aneh dan tidak sesuai dengan pertumbunhan anggota badan serta perubahan-perubahan yang disebabkan oleh menjadi matangnya bagian-bagian kelamin.
C.   Perkembangan Sosial dan Bimbingan
 Sebagian kebutuhan sosial yang khusus pada seorang remajatimbul akibat semakin luasnya pandangan remaja tersebut. Pandangan yang semakin luas itu diakibatkan oleh berbagai peristiwa, kontak yang lebih kerap, serta datangnya masa dewasa yang dialami oleh si remaja. Rasa takut, kesadaran diri, sikap radikal dan agresif, acuh tak acuh, dan keinginan/perasaan sosial mengakibatkan remaja mengindahkan hak-hak orang lain serta bekerja sama untuk kepentingan bersama. Kegiatan kelompok tersebut didasarkan pada naluri dasar manusia yaitu naluri sosial. Bimbingan mempunyai tugas dan tanggung jawab utama membantu para siswa dalam hal mengatur dan memilih kelompok-kelompok yang mempunyai tujuan yang berguna bagi perkembangannya, yang sesuai dengan kebutuhan serta kemampuan siswa. Pertolongan kepada para murid, khususnya kaum muda, dalam hal perkembangan sosial merupakan tugas seluruh staf sekolah. Murid harus merasa bebas hidup disekolah dan merasa bebas untuk datang dan minta pertolongan anggota staf sekolah.  Bimbingan juga dapat memberikan pertolongan kepada murid-murid dalam aktivitas-aktivitas organisasi. Organisasi yang konstruktif sering kali sangat bermanfaat untuk mencegah terbentuknya kelompok-kelompok yang destruktif. Bimbingan dapat membantu terlaksananya program yang sesuai dengan kebutuhan murid dan mempersiapkan murid-murid menjadi anggota yang baik.  Organisasi-organisasi siswa harus dibantu menyadari bahwa mereka adalah unsur-unsur yang sangat penting dalam keseluruhan program sekolah, dan harus diorganisir serta dijalankan sedemikian rupa sehingga memiliki nilai sebesar-besarnya bagi seluruh siswa dan tidak terbatas bagi kelompok kecil siswa tertentu. Persoalan-persoalan yang dihadapi para siswa dalam mengurus organisasi sekolah sangat membutuhkan bimbingan agar kegiatan organisasi sekolah dapat dipakai sebagai alat penesuaian yang efektif.
·        Tugas-tugas Perkembangan Siswa Sekolah Menengah
Havighurs (1957) menyebutkan tugas-tugas perkembangan bagi para remaja sebagai berikut :
a.      Mencapai perkembangan baru yang lebih matang. Siswa mencapai perkembangan yang baru dan lebih matang dalam hubungannya dengan teman sebaya baik laki-laki maupun perempuan. Tugas perkembangan ini berkaitan juga dengan kematangan hormon pada masa remaja, sehingga dorongan seksual menjadi dominan dalam kehidupan para remaja. Melalui hubungan dengan jenis kelamin yang berbeda mereka mempelajari tingkah laku orang dewasa. Tugas perkembangan sosial para remaja diperoleh melalui sekolah menengah dan perguruan tinggi. Anak perempuan lebih cepat matang daripada anak laki-laki.
b.      Mencapai perkembangan peranan sosial sebagai laki-laki dan perempuan. Para remaja akan belajar bertingkah laku sosial yang sesuai dengan tuntutan masyarakat sebagai seorang laki-laki atau seorang perempuan. setiap masyarakat akan menuntut tingkah laku yang berbeda bagi anak laki-laki dan anak perempuan. Karier mereka pun berbeda. Perkembangan budaya sangat berpengaruh atas perubahan karier bagi kaum wanita. Anak laki-laki akan dituntut menjadi tulang punggung keluarga dan anak perempuan akan mudah menerima peranannya ssebagai isteri dan ibu rumah tangga.
c.       Mencapai kebebasan emosional dari orangtua dan orang dewasa lainnya. Tugas ini menuntut para remaja untuk melepaskan diri dari sifat ketergantungan pada orang lain serta bebas dari perasaan kekanak-kanakan. Anak mulai mengembangkan hubungan perasaan dan sikap menghargai orang tua tanpa tergantung pada mereka. Orang tua dan guru juga berperan dalam mendorong anaknya untuk mandiri.
d.      Dorongan dan pencapaian prilaku sosial yang bertanggung jawab. Dalam tugas ini para remaja diharapkan dapat berpartisipasi sebagai orang dewasa yang bertanggung jawab dalam kehidupan masyarakat, perilakunya menunjukan nilai-nilai yang diakui masyarakat, khususnya dalam kehidupan pribadinya. Tugas ini dipelajari sepanjang hidupnya dalam kelompok keluarga dan teman sebayanya. Mereka belajar memberi dan menerima dalam kehidupan kelompoknya.
e.      Pengenalan seperangkat nilai dan sistem etika sebagai pemandu perilakunya. Dalam tugas ini para remaja memperlajari nilai-nilai yang mungkin diwujudkan dalam kehidupannya dan merumuskan dunia laki-laki dalam kaitannya dengan manusia lain. Ia menciptakan gambaran duniamya sendiri yang diharapkan dapat selaras dengan dunia orang lain. Dalam kenyataannya, kebanyakan remaja tertarik pada filsafat dan masalah-masalah keagamaan.
Bimbingan disekolah menegah mempunyai arti besar dalam membantu para remaja mencapai tugas-tugas perkembangan diatas.

·        Macam-macam Problem Siswa Sekolah Menegah
A.     Keputusan Meninggalkan Sekolah
Banyak siswaterpaksa meninggalkan bangku sekolah sebelum waktunya. Mereka pada umumnya mendapat kesukaran dalam masyarakat, terutama kesukaran mencari pekerjaan. Masalah ini harus diimbangi dengan bimbingan belajar agar terdapat penyesuaian anak terhadap program sekolah. Sekolah dengan program bimbingan harus berusaha mengurangi kemungkinan anak meninggalkan sekolah sebelumnya.

B.     Persoalan-persoalan Belajar

Meskipun persoalan-persoalan yang dijumpai disekolah menengah bukanlah persoalan yang baru, saat ini persoalan-persoalan tersebut dinilai penting. Misalnya kesulitan membaca, kecepatan membaca dan memahami apa yang dibaca, kemalasan belajar, hubungan dengan guru, mata pelajaran baru, perbedaan-perbedaan kemampuan dalam berbagai mata pelajaran sekolah. Semua persoalan tersebut merupakan faktor penting dalam menyesuaikan diri disekolah menengah. Suatu program bimbingan harus menolong anak untuk menemukan kesulitan belajar dan merencanakan langkah-langkah untuk mengatasinya. Seorang murid mungkin membutuhkan bantuan untuk perbaikan membaca, pertolongan dalam berhitung, atau cara beajar yang lebih efektif, dan mingkin juga penyesuaian terhadap hambatan-hambatan emosional.

Sutirna. 2013. Bimbingan dan Konseling Pendidikan Formal dan NonFormal. Yogyakarta: Andi
Gunawan, yusuf. 1992. Pengantar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama


Tidak ada komentar:

Posting Komentar