Tujuan
Layanan Bimbingan dan Konseling
Secara
umum tujuan layanan bimbingan dan konseling disekolah menengah adalah
mengembangkan dasar-dasar pembentukan warga negara yang beriman dan bertaqwa,
berkarakter dan bermartabat, meningkatkan kemampuan membaca, menulis dan
berhitung, sebagai alat untuk memahami mata pelajaran lainnya, meningkatkan
pengalaman belajar yang mandiri, kreatif, dan produktif. Memberikan kecakapan
individu unntuk bekerja dan berusaha mandiri. Memberikan bekal pengetahuan,
kemampuan, dan sikap dasar yang memungkinkan murid mengikuti pendidikan
selanjutnya.
Sedangkan
tujuan secara khusus layanan bimbingan dan konseling di sekolah menengah adalah
membantu murid belajar untuk mencapai tujuan perkembangannya, yang meliputi
aspek pribadi, sosial, belajar, dan karir sebagai landasan untuk mencapai
tujuan bimbingan dan konseling secara umum.
Untuk
dapat mencapai tujuan-tujuan perkembangan tersebut, maka murid perlu meguasai
serangkaian tugas-tugas berkaitan dengan perkembangannya atau yang lazim
disebut tugas-tugas berkembangan. Pencapaian atau penguasaan tugas-tugas
perkembangan tidak sealu berhasil, karena terdapat beberapa faktor yang dapat
mempengaruhinya. Faktor tersebut bisa datang dari diri sendiri dan bisa datang
dari uar atau lingkungan. Apa yang dimaksud dengan tugas-tugas perkembangan,
bagaimana wujud tugas-tugas perkembangan murid, lingkungan dan faktor-faktor
lainnya yang dapat mempengaruhi penguasaan tugas-tugas perkembangan.
BIMBINGAN
DI SEKOLAH MENENGAH
·
Pentingnya Bimbingan di Sekolah Menengah
Bimbingan sangat diperlukan
dalam mengadakan pilihan-pilihan dan penyesuaian atau memecahkan
persoalan-persoalan yang dihadapi oleh manusia. Bimbingan harus merupakan suatu
proses yang terus menerus selama hidup bagi mereka yang membutuhkan
pertolongan. Bimbingan preventif di sekolah menengah akan mengurangi kebutuhan
bimbingan di kemudian hari.
·
Sifat-sifat Siswa di Sekolah Menengah
Pada umumnya,
murid-murid sekolah menengah berumur antara 12 dan 18 tahun. Masa usia ini
merupakan masa remaja dan merupakan masa yang penuh perubahan dalam pertumbuhan
fisik, mental, sosial, dan emosional. Masa ini merupakan masa pertumbuhan yang
cepat dalam tinggi dan berat badan, kekuatan fisik, serta dunia sosial. Dalam
masa ini anak mengalami dan merasakan perasaan kebebasan pribadi dan keinginannya
untuk bersatu dengan yang lain dalam berteman. Para remaja umumnya sulit
membuka dirinya terhadap orang lain dan sukar mengetahui diri sendiri dalam
proses perubahannya. Mereka juga sukar mengakui bahwa mereka membutuhkan
bimbingan, dan mereka menolak pertolongan dari orang dewasa. Masa remaja
dimulai dengan perubahan fisik, ketika tanda-tanda kelamin yang primer atau
yang sekunder berkembang, juga disertai dengan perubahan sifat-sifat psikis,
sifat-sifat mental, dan sosial serta sikapnya terhadap -sekolah, guru, orang
tua, dan penguasa lainnya. Perubahan-perubahan minat pun tampak jelas, terutama
perubahan minat terhadap nilai-nilai kesusastaraan, kesenian, dan
kemasyarakatan. Sifat-sifat siswa sekolah menengah dapat dilihat dari aspek
kepribadian dalam kaitannya dengan bimbingan.
A.
Perkembangan Emosional
dan Bimbingan
Halangan-halangan
emosional terjadi pada usia tertentu pada perkembangan seseorang pada semua
jenjang sekolah. Perkembangan fisik dengan bertambahnya kekuatan badan,
dorongan seksual, rasa tanggung jawab karena semakin dewasa merupakan
penyebab-penyebab yang sangat penting dari perubahan-perubahan emosional dan
ketidak senangan jiwa. Keadaan-keadaan emosional semacam itu sering kali
menjadi penyebab ketidaksesuaian atau keidaksenagan siswa. Siswa membutuhkan
bimbingan dalam pertumbuhannya menuju ke “kedewasaan emosional”, yaitu dalam
kemampuan siswa mengarahkan emosi-emosi dasarnya yang sangat kuat kepada
kegiatan-kegiatan yang dapat menuju tercapainya tujuan yang diinginkan oleh
masyarakat dan memuaskan bagi diri sendiri.
B.
Perkembangan Fisik dan
Bimbingan
Kebutuhan fisik yang
khas terjadi pada siswa sekolah menengah, berkisar pada masa pertumbuhannya
yang cepat dan kedewasaan fisiologis. Bersamaan dengan perubahan-perubahan ini
sering terjadi pula semakin berkurangnya vitalitas siswa, adanya kelesuan,
koordinasi yang kurang sempurna, kemampuan-kemampuan yang aneh dan tidak sesuai
dengan pertumbunhan anggota badan serta perubahan-perubahan yang disebabkan
oleh menjadi matangnya bagian-bagian kelamin.
C.
Perkembangan Sosial dan
Bimbingan
Sebagian kebutuhan sosial yang khusus pada
seorang remajatimbul akibat semakin luasnya pandangan remaja tersebut.
Pandangan yang semakin luas itu diakibatkan oleh berbagai peristiwa, kontak
yang lebih kerap, serta datangnya masa dewasa yang dialami oleh si remaja. Rasa
takut, kesadaran diri, sikap radikal dan agresif, acuh tak acuh, dan
keinginan/perasaan sosial mengakibatkan remaja mengindahkan hak-hak orang lain
serta bekerja sama untuk kepentingan bersama. Kegiatan kelompok tersebut
didasarkan pada naluri dasar manusia yaitu naluri sosial. Bimbingan mempunyai
tugas dan tanggung jawab utama membantu para siswa dalam hal mengatur dan
memilih kelompok-kelompok yang mempunyai tujuan yang berguna bagi perkembangannya,
yang sesuai dengan kebutuhan serta kemampuan siswa. Pertolongan kepada para
murid, khususnya kaum muda, dalam hal perkembangan sosial merupakan tugas
seluruh staf sekolah. Murid harus merasa bebas hidup disekolah dan merasa bebas
untuk datang dan minta pertolongan anggota staf sekolah. Bimbingan juga dapat memberikan pertolongan
kepada murid-murid dalam aktivitas-aktivitas organisasi. Organisasi yang
konstruktif sering kali sangat bermanfaat untuk mencegah terbentuknya
kelompok-kelompok yang destruktif. Bimbingan dapat membantu terlaksananya
program yang sesuai dengan kebutuhan murid dan mempersiapkan murid-murid
menjadi anggota yang baik.
Organisasi-organisasi siswa harus dibantu menyadari bahwa mereka adalah
unsur-unsur yang sangat penting dalam keseluruhan program sekolah, dan harus
diorganisir serta dijalankan sedemikian rupa sehingga memiliki nilai
sebesar-besarnya bagi seluruh siswa dan tidak terbatas bagi kelompok kecil
siswa tertentu. Persoalan-persoalan yang dihadapi para siswa dalam mengurus
organisasi sekolah sangat membutuhkan bimbingan agar kegiatan organisasi
sekolah dapat dipakai sebagai alat penesuaian yang efektif.
·
Tugas-tugas Perkembangan
Siswa Sekolah Menengah
Havighurs (1957)
menyebutkan tugas-tugas perkembangan bagi para remaja sebagai berikut :
a. Mencapai perkembangan
baru yang lebih matang. Siswa mencapai perkembangan
yang baru dan lebih matang dalam hubungannya dengan teman sebaya baik laki-laki
maupun perempuan. Tugas perkembangan ini berkaitan juga dengan kematangan
hormon pada masa remaja, sehingga dorongan seksual menjadi dominan dalam
kehidupan para remaja. Melalui hubungan dengan jenis kelamin yang berbeda
mereka mempelajari tingkah laku orang dewasa. Tugas perkembangan sosial para
remaja diperoleh melalui sekolah menengah dan perguruan tinggi. Anak perempuan
lebih cepat matang daripada anak laki-laki.
b. Mencapai perkembangan
peranan sosial sebagai laki-laki dan perempuan. Para
remaja akan belajar bertingkah laku sosial yang sesuai dengan tuntutan
masyarakat sebagai seorang laki-laki atau seorang perempuan. setiap masyarakat
akan menuntut tingkah laku yang berbeda bagi anak laki-laki dan anak perempuan.
Karier mereka pun berbeda. Perkembangan budaya sangat berpengaruh atas
perubahan karier bagi kaum wanita. Anak laki-laki akan dituntut menjadi tulang
punggung keluarga dan anak perempuan akan mudah menerima peranannya ssebagai
isteri dan ibu rumah tangga.
c. Mencapai kebebasan
emosional dari orangtua dan orang dewasa lainnya. Tugas
ini menuntut para remaja untuk melepaskan diri dari sifat ketergantungan pada
orang lain serta bebas dari perasaan kekanak-kanakan. Anak mulai mengembangkan
hubungan perasaan dan sikap menghargai orang tua tanpa tergantung pada mereka.
Orang tua dan guru juga berperan dalam mendorong anaknya untuk mandiri.
d. Dorongan dan pencapaian
prilaku sosial yang bertanggung jawab. Dalam
tugas ini para remaja diharapkan dapat berpartisipasi sebagai orang dewasa yang
bertanggung jawab dalam kehidupan masyarakat, perilakunya menunjukan
nilai-nilai yang diakui masyarakat, khususnya dalam kehidupan pribadinya. Tugas
ini dipelajari sepanjang hidupnya dalam kelompok keluarga dan teman sebayanya.
Mereka belajar memberi dan menerima dalam kehidupan kelompoknya.
e. Pengenalan seperangkat
nilai dan sistem etika sebagai pemandu perilakunya.
Dalam tugas ini para remaja memperlajari nilai-nilai yang mungkin diwujudkan
dalam kehidupannya dan merumuskan dunia laki-laki dalam kaitannya dengan
manusia lain. Ia menciptakan gambaran duniamya sendiri yang diharapkan dapat
selaras dengan dunia orang lain. Dalam kenyataannya, kebanyakan remaja tertarik
pada filsafat dan masalah-masalah keagamaan.
Bimbingan disekolah menegah mempunyai arti besar
dalam membantu para remaja mencapai tugas-tugas perkembangan diatas.
·
Macam-macam Problem Siswa Sekolah Menegah
A. Keputusan Meninggalkan Sekolah
Banyak
siswaterpaksa meninggalkan bangku sekolah sebelum waktunya. Mereka pada umumnya
mendapat kesukaran dalam masyarakat, terutama kesukaran mencari pekerjaan.
Masalah ini harus diimbangi dengan bimbingan belajar agar terdapat penyesuaian
anak terhadap program sekolah. Sekolah dengan program bimbingan harus berusaha
mengurangi kemungkinan anak meninggalkan sekolah sebelumnya.
B. Persoalan-persoalan Belajar
Meskipun
persoalan-persoalan yang dijumpai disekolah menengah bukanlah persoalan yang
baru, saat ini persoalan-persoalan tersebut dinilai penting. Misalnya kesulitan
membaca, kecepatan membaca dan memahami apa yang dibaca, kemalasan belajar,
hubungan dengan guru, mata pelajaran baru, perbedaan-perbedaan kemampuan dalam
berbagai mata pelajaran sekolah. Semua persoalan tersebut merupakan faktor
penting dalam menyesuaikan diri disekolah menengah. Suatu program bimbingan
harus menolong anak untuk menemukan kesulitan belajar dan merencanakan
langkah-langkah untuk mengatasinya. Seorang murid mungkin membutuhkan bantuan
untuk perbaikan membaca, pertolongan dalam berhitung, atau cara beajar yang
lebih efektif, dan mingkin juga penyesuaian terhadap hambatan-hambatan
emosional.
Sutirna.
2013. Bimbingan dan Konseling Pendidikan
Formal dan NonFormal. Yogyakarta: Andi
Gunawan,
yusuf. 1992. Pengantar Bimbingan dan
Konseling. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Tidak ada komentar:
Posting Komentar